Beranda Muslimah Pernikahan Pernikahan : Kugapai Harapan Kuraih Impian

Pernikahan : Kugapai Harapan Kuraih Impian

31
0
Pernikahan
Pernikahan

Pernikahan

Pernikahan
Pernikahan

Pernikahan

Oleh : Dra. Giyarsih SSI, MPd/Surtiana Nitisumantri

”Dan di antara tanda-tanda kekuasan-Nya adalah menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri. Supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan di antaramu kasih sayang. Sesungguhnya yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mau berpikir.” (Qs. ar-Rum[30]: 21)

Cinta kasih merupakan paduan dari dua kata yang mengandung arti psikologis yang amat dalam dan penafsiran yang beragam sesuai sudut pandang subyek dan obyeknya. Cinta kasih merupakan karunia dari Allah Ta’ala kepada hamba-hamba-Nya. Akan tetapi juga bisa menjadi bencana bila salah dalam menggunakan dan mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Cinta memainkan peranan penting dalam kehidupan manusia. Sebab ia merupakan landasan kehidupan pernikahan, pembentukan keluarga dan pemeliharaan anak-anak. Ia adalah landasan hubungan erat di masyarakat dan pembentukan hubungan-hubungan manusiawi yang akrab. Ia adalah pengikat yang kokoh dalam hubungan antara manusia dengan Tuhannya dan membuatnya ikhlas berkorban, ikhlas menyembah-Nya, mengikuti jalan-Nya, dan berpegang teguh pada syariat-Nya.

“Mencintai apa yang dicintai oleh kekasih adalah kesempurnaan cinta kepada sang kekasih.” (Ibnu al-Qayyim al-Jauziyah)

Sebagaimana cinta Agus saat masa remajanya, misalnya, keindahan mega-mega cinta yang dirajutnya bersama-sama teman pemuda di kampungnya. Betapakah ia mendambakan mampu menggapai cinta bersama Laras sebagaimana firman Allah Ta’ala dalam surat ar-Rum tersebut di atas. Namun Agus mengalami kesulitan untuk meraih cinta seorang gadis kecil si bunga desa sebab banyak saingannya. Menurutnya, cinta hanyalah sebuah nama yang sering dibicarakan orang, dari yang muda sampai tua. Banyak manusia mengatasnamakan cinta untuk setiap perilakunya. Tapi, apakah mereka mengerti apa makna di balik sebuah kata cinta?

Cinta merupakan nama yang sangat sederhana dan mudah diucapkan. Tapi, tahukah apa arti dari cinta tersebut? Sebuah fenomena yang luar biasa, membuat yang sedih menjadi ceria, jahat menjadi baik, peperangan menjadi perdamaian, kebencian menjadi persaudaraan, pahit menjadi manis, luka menjadi sembuh, sakit menjadi sehat. Semua itu atas nama cinta. Dan, ketika cinta disalahgunakan, maka kejadiannya juga bakal sebaliknya.

Kisah cinta Agus dalam meraih cintanya dari seorang Laras shalehah si bunga desa yang banyak digandrungi pemuda desa seakan buntu sebab si bunga desa itu teguh pada kaidah-kaidah Islam dalam menggapai cintanya. Menurutnya, dalam Islam, cinta seseorang haruslah berlandaskan kepengikutan (ittibâ’) dan ketaatan.

“Katakanlah, ‘Jika kamu benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku (Rasulullah), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.’”(Qs. Ali ‘Imran [3]: 31)

Sehingga dengan keshalehan Laras, menimbulkan motivasi bagi teman-temannya dalam kegiatan organisasi pemuda, kedamaian, kenyamanan, dan ketenteraman hidup di pinggiran kota yang senantiasa menyejukkan hatinya. Petualangan cinta dan keberhasilan studinya hingga mendapatkan pekerjaan di luar Jawa, yang ditebusnya dengan pengorbanan yang mahal; kegagalan mempersunting si gadis bunga desa pujaan hatinya memaksa Agus untuk meninggalkan desanya menuju kota kecil di luar Jawa. Ia menjalankan tugas sebagai guru pengabdi yang menjadi cita-citanya. Ia relakan orang-orang yang dicintainya; keluarga, adik, kekasih, sahabat, dan semua rekan-rekannya. Selamat tinggal semuanya, kan kujelang masa depan menuju cita yang cemerlang, dengan cinta yang tak kesampaian.

Cinta yang tak pernah sampai dan senantiasa menghiasi khayalannya, itulah sepenggal kisah pemuda miskin yang sukses menggapai cita-cita, namun gagal dalam merengkuh cinta dalam dekapnya.

“Cinta lebih berarah ke konsep abstrak, lebih mudah dialami daripada dijelaskan.” (Ibnu al-Qoyyim al-Jauziyah)

Apa arti cinta yang sebenarnya? Cinta adalah sebuah ungkapan rasa sayang dan simpati kepada seseorang. Cinta kita kepada Sang Pencipta adalah tanda betapa diri amat membutuhkan dan menyanjung-Nya. Rasa cinta yang kita berikan menunjukkan kadar suka dan keinginan hidup bersamanya. Kecemburuan sering terjadi jika seseorang yang kita cintai bersama orang lain. Itulah cinta, satu nama seribu makna.

Cinta adalah sebuah perasaan yang ingin membagi bersama atau sebuah perasaan afeksi terhadap seseorang.

Supaya hidup manusia penuh keserasian dan keharmonisan dengan lainnya, maka ia harus membatasi dirinya dalam mencintai diri dan egoismenya. Seseorang harus menyeimbangkan dirinya dengan mencintai dan menyayangi sesama manusia. Hal ini diisyaratkan oleh Allah Ta’ala dalam terusan ayat-ayat al-Qur’an di atas. Caranya dengan memberikan zakat, bersedekah kepada fakir miskin, dan para peminta-minta, juga bertakwa kepada-Nya. Dengan demikian, ia bisa menyeimbangkan antara cinta kepada dirinya sendiri dan cintanya pada orang lain, serta bisa merealisasikan kebaikan individu dan masyarakat.

“Sesungguhnya manusia itu diciptakan Allah bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Tetapi apabila mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu untuk orang miskin yang meminta-minta dan orang miskin yang tidak maminta-minta, dan orang-orang yang memercayai Hari Pembalasan, dan takut kepada adzab-Nya.” (Qs. al-Ma’arij [70]: 19-27)

Semoga ada hikmahnya untuk kita semua. [Surtiana Nitisumantri/Bersamadakwah]

Terkait

Pembaca (7)