Beranda Keluarga Dunia Anak 3 Cara Mendidik Anak Nakal, Tolong Jangan Dipukul!

3 Cara Mendidik Anak Nakal, Tolong Jangan Dipukul!

19
0

cara-mendidik-anak-nakal-1

 

Pengalaman mendidik anak-anak di kelas rasanya sangat beragam, misalnya di awal tahun pelajaran baru saat peralihan murid ke guru lainnya sering menimbulkan banyak pertanyaan. Pertanyaan tentang berapa anak yang mudah menyerap pelajaran dengan cepat, berapa anak yang membutuhkan perhatian, dan berapa anak yang sering bermasalah di kelasnya. Bermasalah bukan berarti nakal, terkadang saya tidak suka menyebutkannya dengan nakal. Cukup dengan bermasalah saja, masalah dengan teman-temannya atau masalah dengan dirinya sendiri. Di sini mungkin kita harus tahu cara mendidik anak nakal untuk membuat mereka menjadi lebih baik.

Berbeda dengan saya, ada juga beberapa guru yang dengan gamblang menyebutkan seorang anak nakal. Melabeli dengan kata anak nakal sudah sangat menyakitkan buat anak tersebut kalau dia mengetahuinya. Bukan juga karena saya anak nakal pada saat menjadi murid tetapi lebih karena label itu justru yang akan menjadi tertanam dalam dirinya. Alhasil, setiap guru mencari cara mendidik anak nakal tersebut. Setiap perkataan orang tua adalah doa untuk anak-anaknya, makanya berhati-hatilah saat memanggilnya. Semarah apa pun usahakan kita tetap bisa mengontrol diri dengan tidak terpancing menyebutnya si anak nakal. Kontrol diri yang baik ini juga penting supaya terhindar dari hal yang tidak baik seperti memukul anak. Inilah alasannya mengapa jangan memukul anak.

1. Memukul Anak Sangatlah Tidak Dianjurkan dalam Islam

Dalam beberapa penelitian menunjukan bahkan bentakan saja kepada anak bisa mematikan beberapa sel dalam otaknya, demikian juga saat memukulnya. Rasa yang tertangkap kulit dari pukulan mungkin saja bisa hilang, tapi rasa yang tertanam jauh di dalam hati anak, kita tidak bisa menebak. Anak bisa saja mengingatnya dalam jangka waktu yang panjang. Hukuman atau sanksi dalam pendidikan Islam hanya diberikan untuk memberikan bimbingan dan perbaikan, bukan pembalasan atau kepuasan hati.

Ibnu Khaldun dalam mukadimahnya menyebutkan hal yang memberikan pengertian bahwa dia tidak suka memberikan kekerasan dan paksaan dalam mendidik anak-anak. Untuk itu dia mengatakan, “Barangsiapa yang menerapkan pendidikannya dengan cara kasar dan paksaan terhadap orang-orang yang menuntut ilmu kepadanya, para budak, atau para pelayannya maka orang yang dididik olehnya akan dikuasai oleh serba keterpaksaan. Keterpaksaan akan membuat jiwanya merasa sempit dan sulit untuk mendapatkan kelapangan. Semangat membuat kreativitasnya akan lenyap, cenderung bersikap malas, dan mendorong untuk bersikap berdusta dan melakukan kebusukan karena takut terhadap perlakukan suka memukul yang ditimpakan kepadanya secara paksa. Pendidikan secara keras yang diterapkan terhadap dirinya mengajarinya untuk melakukan tipu muslihat dan penipuan sehingga lama-lama akan menjadi kebiasaan dan pekerti bagi yang bersangkutan. Akhirnya, akan rusaklah nilai-nilai kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi olehnya.” (Tarbiyah Islamiyah karya Muhammad Athiyyah Al Ibrasyi).

2. Rasulullah saw. pun Tidak Pernah Memukul

Teladan kita Rasulullah saw. dalam kisah yang diriwayatkan oleh Muslim dari Aisyah r.a menceritakan, “Rasulullah saw. tidak pernah memukul dengan tangannya, baik terhadap istri maupun pelayannya kecuali bila berjihad di jalan Allah.” Rasul menganjurkan jika kita marah terhadap anak, sebaiknya kita memendam kemarahan dan emosinya. Sebaik-baiknya orang adalah orang yang mampu menahan emosinya ketika sedang marah. Dalam hal ini diriwayatkan oleh Bukhari bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Seorang yang benar-benar jagoan bukanlah orang yang dapat membanting orang lain, melainkan orang yang jagoan ialah seorang yang mampu mengendalikan dirinya saat marah.”

3. Hanya Boleh Memukul untuk Mendidik saat Menginjak Usia 10 Tahun

Tahan emosi dan amarah saat mendidik anak. Kita pun dianjurkan untuk tidak memukul anak di bawah usia 10 tahun. Ketika menginjak usia 10 tahun pun, pukulan hanya untuk memberikan peringatan dan bagian yang dipukul adalah bagian yang paling empuk, yaitu bagian bokong. Jangan dilakukan berulang-ulang karena efeknya tidak akan baik untuk anak seperti dijelaskan di atas.

Nah, tentang hal ini disebutkan bahwa dahulu Khalifah Umar bin Abdul Aziz dalam Kitabul Ilya yang ditulis Ibnu Abdu Dunya pernah mengirim surat kepada semua gubernurnya yang ada di berbagai kota besar yang isinya antara lain mengatakan bahwa seorang muallim (guru) tidak boleh memukul lebih dari 3 kali secara berturut-turut. Sebab, sesungguhnya cara ini akan menakutkan anak didik. Harap diingat yang dimaksudnya memukul di sini adalah untuk tujuan mendidik bukan menghukum. Sebagai dalilnya ialah pesan Rasulullah saw. kepada Muadz bin Jabal dari hadis riwayat Ahmad yang mengatakan, “Janganlah mengangkat tongkatmu terhadap mereka untuk mendidik, tetapi pertakutilah mereka dengan Allah.”

Kita sebagai orang tua hendaklah bersabar. Jangan sampai karena ketidakmampuan kita dalam mengontrol emosi akan berdampak buruk untuk masa depan anak. Sesungguhnya anak adalah titipan Allah kepada kita. Janganlah kita sia-siakan titipan itu. Semoga kita semua bisa menjadi orang tua yang bisa bersabar dalam mendidik anak-anak kita.//abiummi.com/

Pembaca (60)