10 Cara Memperbaiki Diri

10 Cara Memperbaiki Diri Agar Lebih Dewasa

Pernahkah Anda mendengar sebuah ungkapan seperti “tua itu pasti, dewasa itu pilihan?” Ungkapan tersebut memberikan pemahaman bahwa bertambahnya usia tidak serta merta mengubah seseorang menjadi dewasa.

Kedewasaan tidak bisa diukur dengan usia, melainkan dari kematangan pribadinya. Meski usia sudah cukup matang, nyatanya banyak juga kok pria maupun wanita yang masih kekanak-kanakan.

Tidak dewasa di usia yang semestinya bisa berpengaruh buruk bagi masa depan. Anda akan menemui banyak kesulitan dalam bersosialisasi, berkomunikasi termasuk mendapatkan kepercayaan.

Membentuk diri menjadi pribadi yang dewasa sebenarnya tidak terlalu sulit. Asalkan ada kemauan dalam diri Anda untuk berubah. Berikut 10 cara memperbaiki diri agar Anda lebih dewasa dan tentunya lebih baik dari sebelumnya.

1. Terima kritik dengan hati terbuka

Mungkin Anda punya pertanyaan seperti ini, “Memperbaiki diri itu dimulai dari mana?”

Saran saya, mulailah menerima kritik dengan hati terbuka. Pasalnya, tak banyak orang mampu menerima kritik. Hanya orang-orang berjiwa besar yang sanggup menerima kritikan dengan hati terbuka.

Kritik memang cukup menyebalkan bagi seorang yang belum dewasa. Bahkan kritik dianggap sebagai energi negatif yang membuat patah semangat serta hilangnya kepercayaan diri. Orang yang mengkritik pun kemudian dikatakan menghina dan wajib dimusuhi.

Menerima kritik jelas tidak mudah. Namun Anda harus mencoba belajar menerima setiap kritikan jika ingin lebih dewasa. Lakukan beberapa langkah sederhana ini agar Anda mampu menerima kritik, yaitu :

  • dengarkan – sebelum bereaksi, dengarkan dahulu apa isi kritikannya.
  • kontrol perasaan – tarik napas panjang dan perlahan. Pastikan Anda tidak bereaksi dengan emosi. Karena sejatinya kritikan yang baik dapat membangun pribadi Anda menjadi lebih baik lagi.
  • mohon maaf dan terima kasih – selanjutnya sampaikan permohonan maaf kepada orang yang telah Anda rugikan. Ucapkan juga terima kasih kepada para pengkritik karena telah mengingatkan Anda untuk memperbaiki diri

2. Bedakan mana yang baik dan mana yang buruk

Seorang yang masih kekanak-kanakan tidak bisa membedakan apakah ini baik dan berguna bagi dirinya atau tidak. Mereka cenderung melakukan apa yang mereka suka dan membuat dirinya gembira tanpa melihat dampaknya pada orang lain.

Berbeda dengan orang yang dewasa. Dia tahu bagaimana membedakan yang baik dan buruk serta selalu mempertimbangkannya. Apakah ini bermanfaat atau tidak? Apakah dapat merugikan orang lain atau sebaliknya merugikan diri sendiri?

Jadi, jika Anda ingin memiliki pribadi yang lebih dewasa, bijaksanalah. Pertimbangkan segala sesuatunya. Ambil yang benar-benar bermanfaat untuk Anda dan hijrah dari hal yang sia-sia.

3. Biasakan diri untuk disiplin dan menghargai waktu

Cara memperbaiki diri selanjutnya adalah membiasakan diri untuk disiplin dan menghargai waktu. Jika sampai sekarang Anda masih belum bisa disiplin dan menghargai waktu, tandanya Anda belum benar-benar dewasa.

Tak hanya menghargai waktu, seorang yang dewasa pun cerdas membagi waktunya dalam skala prioritas.

Dia tahu mana yang harus didahulukan dan mana yang bisa dikerjakan kemudian. Meskipun multitasking, dia tetap bisa fokus pada pekerjaannya karena selalu disiplin.

Kebiasaan menunda-nunda pekerjaan, sering terlambat, dan tidak teratur merupakan contoh sikap yang meremehkan waktu. Jadi, cobalah untuk lebih disiplin sehingga Anda bisa berubah menjadi lebih baik dari sebelumnya.

4. Siap menerima perubahan apa pun

Perubahan dalam hidup bagaimanapun tidak akan bisa kita hindari. Dari hal-hal kecil seperti jam masuk kantor hingga putus dengan kekasih adalah contoh perubahan yang sangat mungkin terjadi.

Sebagian orang sanggup menerima perubahan, namun sebagian lagi berusaha mati-matian menentang perubahan karena takut membayangkannya. Mereka yang mampu menerima perubahan dikatakan memiliki mental yang dewasa.

Mengapa demikian?

Mereka yang siap menerima perubahan tahu bahwa tidak selalu perubahan menimbulkan hal-hal yang negatif, bisa saja menjadi positif tergantung dari cara pandang seseorang. Mereka juga sadar bahwa ada hal-hal di luar kendali sehingga mereka harus siap menghadapinya.

Pendeknya, siapkan mental Anda menghadapi perubahan, apapun bentuknya. Karena kesiapan mental Anda merupakan cermin kematangan emosional.

5. Tidak melarikan diri dari masalah

Semua orang pasti punya masalah. Kecil atau besar tergantung bagaimana sudut pandang Anda terhadap masalah itu sendiri. Namun tak semua orang berani menghadapinya.

Ada sebagian orang yang cenderung lari dari masalah dan berpura-pura tidak ada apa-apa. Sebagian lagi menganggap sepele masalah yang ada.

Sikap seperti itu jelas tidak benar. Masalah adalah ujian yang harus dihadapi. Lari dari masalah atau menganggapnya sepele justru dapat memperburuk keadaan Anda.

Bayangkan, jika masalah itu ibaratnya sampah yang Anda biarkan saja. Semakin lama akan semakin menumpuk dan berbau busuk. Begitu juga dengan masalah.

Melarikan diri dari masalah hanya akan menimbulkan masalah-masalah baru, yang lama kelamaan dapat menumpuk dan tidak sanggup Anda selesaikan.

Lalu bagaimana seharusnya Anda bersikap?

Hadapi masalah dengan lapang dada. Selesaikan masalah satu per satu dan jangan pernah menyerah. Yakinlah bahwa di mana ada masalah, di situ juga telah disediakan jalan keluar yang terbaik untuk Anda.

6. Berani mengambil keputusan

Salah satu ciri kedewasaan seseorang adalah mampu mengambil keputusan. Bedakan dengan anak kecil yang apa-apa selalu ditanyakan karena takut dan tidak tahu harus berbuat apa. Orang dewasa paham bagaimana menjawab sebuah persoalan dan bagaimana mengatasinya.

Mampu mengambil keputusan juga memperlihatkan kepercayaan diri yang kuat. Mereka yang berani mengambil keputusan adalah orang yang berani menerima risikonya.

Berlatihlah untuk berani mengambil keputusan meskipun dalam hal-hal yang kecil, agar Anda terbentuk menjadi pribadi yang tangguh dan bertanggung jawab.

7. Jangan mudah menyalahkan orang lain

Apakah Anda adalah orang yang suka menuding orang lain jika terjadi masalah? Atau mudah menghakimi orang lain ketika terjadi kegagalan?

Jika demikian, artinya Anda masih kekanak-kanakan.

Seorang yang dewasa tidak akan mudah memandang masalah dari kulitnya saja. Dia akan mengupasnya dan menemukan fakta-fakta di balik itu. Dia tidak akan mudah menuduh orang lain tetapi berusaha memahami alasannya

Dibanding menyalah-nyalahkan, dia justrulebih memilih memberikan nasihat dan menunjukkan teladan yang baik. Inilah yang disebut kedewasaan sesungguhnya.

8. Bisa dipercaya dan selalu menepati janji

Berbicara mengenai janji, banyak orang tidak bisa menepati janji. Hal ini disebabkan oleh keadaan tertentu yang menyulitkan atau rendahnya komitmen yang ada pada diri orang tersebut.

Meski demikian, ingkar janji tidak bisa dianggap sepele. Sekali, dua kali, tiga kali mungkin orang lain masih bisa menerima alasan lupa, namun apa jadinya jika ingkar janji terjadi berulang kali dan menjadi hobi?

Orang akan mencap Anda sebagai pembohong dan sulit diberi kepercayaan. Akibatnya Anda akan dikucilkan dalam pergaulan karena Anda tidak bisa berkomitmen.

Lebih lanjut, Anda juga tidak akan dipercaya untuk menangani hal-hal yang penting karena dianggap masih kekanak-kanakan dan kurang bertanggung jawab.

Nah, jika tidak ingin disebut kekanak-kanakan, mulailah berusaha mengubah diri agar lebih dewasa, lalu tepati janji Anda, sekecil apapun itu.

9. Berani bertanggung jawab

Cara memperbaiki diri agar lebih dewasa selanjutnya adalah berani bertanggung jawab. Semua yang Anda lakukan, pasti ada konsekuensinya. Dan hanya orang dewasa yang siap bertanggung jawab atas apa yang telah dia lakukan.

Jika Anda ingin menjadi pribadi yang dewasa, belajarlah untuk berani bertanggung jawab dan menerima resikonya. Pikirkan dahulu segala sesuatu sebelum bertindak, agar Anda tidak pernah menyesal atas tindakan dan keputusan yang telah Anda ambil.

10. Akui kesalahan dan minta maaf

Sepertinya mudah untuk mengakui kesalahan, padahal kenyataannya tidaklah demikian. Mengakui kesalahan sendiri sungguh amat sulit dilakukan. Diperlukan kebesaran hati dalam mengalahkan ego dan gengsi yang menghalangi.

Mengakui kesalahan bisa diartikan mengakui kelemahan dan kekurangan diri. Lalu siapa sih yang mau terlihat lemah dan gagal di depan orang?

Tidak semua orang mau mengakui kesalahannya apalagi meminta maaf. Padahal orang lain justru menilai Anda sebagai sosok yang dewasa dan berjiwa besar ketika Anda berani mengaku salah.

Agar berjiwa besar atas kesalahan, cara sederhananya sebagai berikut:

  • bertanggung jawab – jangan suka mencari-cari alasan jika Anda salah apalagi melempar kesalahan kepada orang. Terimalah bahwa itu memang kegagalan Anda, akui lalu bertanggung jawablah dengan konsekuensinya.
  • sebutkan letak kesalahan Anda – menyebutkan dimana letak kesalahan Anda pasti tidak mudah karena gengsi. Cobalah belajar menyebutkan dengan jelas apa kesalahan Anda di depan orang tanpa takut dan ragu.
  • minta maaf – setelah mengakui dengan jelas, selanjutnya adalah meminta maaf kepada orang yang telah Anda rugikan. Pintu maaf akan selalu terbuka jika Anda tulus dan bersungguh-sungguh.

Penutup

Itulah 10 cara memperbaiki diri agar Anda lebih dewasa. Menjadi dewasa adalah sebuah proses, bukan hasil akhir. Kedewasaan merupakan pilihan hidup yang terbentuk dari prinsip sebagai dasarnya. Karena sebuah proses, maka menjadi dewasa diperlukan proses belajar tiada henti seumur hidup kita.

Kedewasaan juga berbicara tentang cara kita memandang hidup. Bagaimana menyikapi masalah hidup yang ada. Apakah kita sanggup menghadapinya atau justru lari dari kenyataan?

Jadi, saat Anda siap menjadi dewasa, di situlah Anda mulai berproses. Berproses untuk memiliki mental yang kuat, semakin tangguh, dan tentu saja semakin bertanggung jawab.//tipspengembangandiri.com

Pembaca (5)